Kegiatan Pelayanan Informasi Dan Indentifikasi serta Sosialisasi Daerah Rawan Bencana tahun 2022

Kegiatan Pelayanan Informasi Dan Indentifikasi serta Sosialisasi Daerah Rawan Bencana tahun 2022

Pemalang, Gerbang Indonesia – Acara kegiatan pelayanan informasi dan identifikasi serta sosialisasi daerah rawan rencana tahun 2022 berlangsung di gedung rapat Kecamatan Bodeh. Sabtu 12 Maret 2022.

Dalam acara tersebut Mulyanto selaku camat Bodeh menyampaikan dan menginformasikan bahwa kegiatan hari ini merupakan mitigasi atau identifikasi daerah rawan bencana di kecamatan Bodeh, kabupaten Pemalang. Semoga dengan kegiatan tersebut kita bisa lebih waspada dalam mengantisipasi resiko bencana alam di lingkungan sekitar kita. Demikian isi pesan sambutan dari Mulyanto.

Selanjutnya Arief selaku kabid BPBD provinsi Jawa Tengah menginformasikan bahwa kegiatan ini merupakan rangkaian panjang dari sebelas Kabupaten dan Kota dengan resiko rawan bencana tinggi dan dua puluh empat kabupaten dan kota dengan resiko rawan bencana rendah.

Mitigasi/Identifikasi bencana dimaksud untuk meningkatkan kapasitas dalam pencegahan bencana demikian pungkas Arief.

H. Pujo Wardono selaku DPRD Provinsi Jawa Tengah Komisi B dari Fraksi PDIP menjelaskan bahwa dalam rangka penanganan penanggulangan bencana pentingnya sebuah adaptasi tentunya peran masyarakat dalam bencana kita harus tahu beberapa jenis bencana, ada bencana alam, bencana non alam dan bencana manusia.

Tentunya untuk bencana alam itu bencana yang disebabkan oleh peristiwa alam, dan untuk bencana non alam bisa seperti bencana epidemi atau juga bencana teknologi.
Dan untuk bencana sosial diantaranya bencana yang adalah seperti Teroris.

Perlu kita ketahui bersama bahwa Indonesia berada pada tiga lempeng tektonik besar dan juga berada dalam lingkaran cincin api tektonik, maka Indonesia termasuk daerah yang rawan bencana karena kita berada pada kondisi dua hal tersebut.

Ketika menghadapi bencana masyarakat punya hak dan kewajiban tentang penanggulangan bencana dengan cara penanggulangan bencana yang handal, untuk haknya masyarakat butuh keamanan sosial atas bencana informasi tentang penanggulangan bencana, dan perlu berperan serta dalam penanggulangan bencana, bisa hak bantuan ataupun memperoleh ganti rugi karena faktor bencana.

Baca juga:  Pemilihan Kadus Desa Kebagusan

Adapun kewajibannya kita bisa bergotong-royong untuk menanggulangi bencana, minimal untuk mencegah bencana banjir dengan gotong royong membersihkan selokan dan ikut menjaga keseimbangan alam dan memberikan informasi yang benar tentang bencana, sebab bencana bersifat sewaktu-waktu.

Masyarakat juga bisa melakukan evaluasi mandiri dan tetap siaga dalam penanggulangan bencana, “Bangunlah jiwanya bangunlah badannya untuk Indonesia Raya” pungkas Pujo.

Selanjutnya Sofan Sumadi DPRD provinsi Jawa Tengah komisi B dari Fraksi PAN menerangkan bahwa sebelum masuk ke informasi penting tentang bencana, Kami informasikan bahwa DPRD itu punya tugas pokok, yang pertama membuat Perda, yang kedua membuat anggaran dan yang ketiga melakukan pengawasan.

Dari data BPBD kabupaten Pemalang dari 14 kecamatan yang ada, ternyata 11 diantaranya masuk dalam rawan bencana, dan 176 desa masuk dalam wilayah rawan bencana diantaranya tanah longsor untuk wilayah punggung atau pegunungan dan untuk bencana banjir itu berada di Pantura dan untuk bencana angin kencang ini hampir di seluruh wilayah Kabupaten Pemalang.

Artinya dengan melihat data di atas bahwa potensi bencana di daerah Kabupaten Pemalang tentu adalah hal yang luar biasa maka perlu diadakan mitigasi atau identifikasi rawan bencana pungkas Sumadi.

Selanjutnya dari kepala BPBD kabupaten Pemalang Sugianto menerangkan bahwa untuk hal informasi paling penting, beberapa hari yang lalu saatnya di desa gambuhan ratusan rumah rusak parah akibat puting beliung.

Dan untuk daerah watukumpul itu sangat rawan bencana longsor bahkan punya potensi tinggi longsor atau bencana longsor.

Sebenarnya kita dari pemerintah Kabupaten Pemalang sudah melakukan upaya relokasi untuk tempat-tempat di wilayah watukumpul yang menjadi prioritas rawan bencana, namun sebagian masyarakat karena lahir di daerah
tersebut dan besar di situ, jadi masyarakat tidak mau untuk direlokasi.

Selanjutnya dari BPBD Kabupaten Pemalang sudah memasang alat pendeteksi dini bencana atau yang disebut EWS (early warning system) Untuk pemasangan EWS itu ada di daerah Cikadu, terus untuk EWS tsunami itu di daerah Pemalang.

Baca juga:  Bupati Pemalang dan Wakil Bupati Pemalang Melaksanakan Safari Ramadhan di Masjid Jami Nurul Iman Desa Sokawangi

EWS banjir itu berada di Bendungan Sokawati sebab beberapa kejadian Bencana Banjir ada di wilayah Sokawati.

EWS yang sudah terpasang di daerah Kabupaten Pemalang dengan tujuan untuk penanggulangan bencana.

Tentang Bencana sebenarnya menjadi tanggung jawab bersama bukan hanya menjadi tanggung jawab Pemerintah, tentunya pihak Pemdes juga harus membentuk relawan atau tim penanggulangan bencana.

Secara khusus BPBD Pemalang punya tim penanggulangan bencana yang namanya TRC atau tim reaksi cepat.

Dalam tugasnya memberikan pelatihan penanggulangan bencana yang pernah dilakukan di watukumpul.

Untuk kegiatan kali ini adalah mitigasi atau identifikasi bencana di kecamatan bodeh. Data catatan khusus resiko bencana banjir di Kabupaten Pemalang punya resiko tinggi tapi untuk kecamatan bodeh punya resiko sedang, sementara di Kecamatan Ampelgading punya resiko bencana banjir yang tinggi, kita bisa lihat di tahun 1989 kecamatan Ampelgading pernah mengalami banjir bandang tinggi, sementara waktu itu di bodeh hanya mendapat resiko sedang.

Untuk angin puting beliung Kabupaten Pemalang punya resiko tinggi sedangkan di kecamatan bodeh punya resiko sedang.

Untuk abrasi kecamatan Bodeh juga terbilang Nol karena jauh dari Pantai, yang punya resiko tinggi terhadap abrasi itu berada di empat Kecamatan yang mempunyai garis pantai seperti di kecamatan Pemalang, kecamatan Taman, Kecamatan Petarukan, dan kecamatan Ulujami.

Untuk gempa bumi di Pemalang punya resiko punya resiko sedang termasuk di Bodeh juga punya resiko sedang.
Untuk bencana kebakaran hutan Kabupaten Pemalang punya Resiko yang relatif tinggi sementara di bodeh punya Resiko yang rendah dengan adanya kebakaran hutan.

Untuk bencana kekeringan secara umum di Kabupaten Pemalang punya resiko sedang demikian juga dengan desa dengan Kecamatan bodeh punya resiko sedang. dan selanjutnya untuk resiko akibat gunung meletus atau erupsi itu ada lima Kecamatan yang punya resiko tinggi terhadap erupsi Gunung Slamet, yang pertama Kecamatan belik, Kecamatan moga, Kecamatan Pulosari, Kecamatan watukumpul dan Kecamatan Randudongkal.

Baca juga:  Plt Bupati Pemalang Melaksanakan Tarawih dan Silaturahim Di Masjid Al Qomariyah Desa Jatirejo Kecamatan Ampelgading

Untuk tanah longsor secara umum di Kabupaten Pemalang punya resiko tinggi tapi di bodeh punya resiko sedang, demikian data resiko dari bencana yang ada di seluruh Kabupaten Pemalang.

Dan untuk hal lainnya kabupaten Pemalang sampai hari ini masih dalam kondisi pandemi covid-19 PPKM level 3, bahkan hari ini di kecamatan taman dan Kecamatan belik ada informasi yang meninggal karens covid-19 sebanyak dua orang.

Hal ini tidak menyurutkan BPBD untuk berupaya melakukan kegiatan vaksinasi bekerjasama dengan TNI dan Polri, dan secara khusus sampai hari ini di Kabupaten Pemalang untuk vaksinasi dosis 1 itu sudah mencapai 96,47% dan sisanya karena faktor lainnya. Untuk dosis 2 72,79%, dan untuk dosis 3 atau Booster baru 52%, untuk lansia dosis 1 sudah 72% dan dosis 2 sudah 14.6% dan untuk dosis 3 atau Booster sudah 2,38%.

Untuk data terkonfirmasi sampai hari ini Pemalang pada angkanya 1028 positif, terkonfirmasi 184 sembuh dan 7 meninggal, itu informasi di bulan maret ini.

Untuk informasi lain Pemalang juga sudah mempersiapkan isolasi terpusat di Gedung DPRD yang lama di depan pendopo, namun demikian sampai sekarang Kondisinya masih kosong atau nol karena masyarakat memilih untuk isolasi mandiri.

Selanjutnya Strategi Penanggulangan Bencana pada Masa Pandemi Covid-19. Peningkatan koordinasi antara pemerintah,
masyarakat, perguruan tinggi, dunia usaha dan media dalam penanggulangan bencana yang tetap mematuhi protokol kesehatan.

Percepatan upaya vaksinasi untuk membentuk ketangguhan komunitas dalam penanggulangan bencana pada masa pandemi Covid-19.

Peningkatan SDM dalam penanggulangan bencana pada masa pandemi Covid-19 baik secara kualitas maupun kuantitas.
Peningkatan pemenuhan Standar protokol Kesehatan masyarakat pada saat terjadinya bencana, Pungkas Sugiyanto.
(Eko B Art).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *