Puncak Acara Kegiatan Sedekah Bumi Di Desa Bodeh, Menggelar Pagelaran Wayang Kulit Dengan Lakon Dewa Amran

Puncak Acara Kegiatan Sedekah Bumi Di Desa Bodeh, Menggelar Pagelaran Wayang Kulit Dengan Lakon Dewa Amran

Pemalang, Gerbang Indonesia – Acara kegiatan Sedekah Bumi adalah salah satu acara tradisional untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Sang Pencipta.

Acara ini masih banyak kita jumpai pada masyarakat di daerah pedesaan, yang kehidupannya ditopang dari sektor pertanian.
Sedekah Bumi ini menjadi sarana ucapan terima kasih warga setempat kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala karunia yang diberikan.
Seluruh penduduk berkumpul dengan penuh suka cita untuk mengungkapkan rasa terima kasih mereka melalui berbagai kegiatan ritual keagamaan, Syukuran dan pesta rakyat.

Bagi masyarakat Jawa khususnya para kaum petani, tradisi sedekah bumi bukan sekedar rutinitas atau ritual yang sifatnya tahunan, akan tetapi tradisi sedekah bumi mempunyai makna yang mendalam. Selain mengajarkan rasa syukur, tradisi sedekah bumi juga mengajarkan pada kita bahwa manusia harus hidup harmonis dengan alam semesta.

Pada tahap selanjutnya, sedekah memiliki fungsi keseimbangan. Maka, orang yang bersedekah itu sedang menjalankan fungsi keseimbangan.

Dengan skala yang lebih luas, sudah sepantasnya manusia menyadari bahwa memang harus ada timbal balik dalam proses keberlangsungan hidup dalam hubungan antara manusia dengan Allah Swt.

Berkaitan dengan kegiatan Sedekah Bumi di desa Bodeh, kecamatan Bodeh, kabupaten Pemalang, kami dari awak media meminta informasi langsung kepada Subekhi selaku kepala desa Bodeh kecamatan Bodeh kabupaten Pemalang di Balai desa setempat, Sabtu 11 Juni 2022.

Dalam keteranganya Subekhi menyampaikan bahwa kegiatan Sedekah bumi kali ini kita isi dengan Acara kegiatan tasyakuran bersama warga masyarakat.

Dalam rangkaian acara Sedekah Bumi didesa Bodeh, puncaknya akan Kami isi dengan pagelaran Seni Wayang Kulit di balai desa Bodeh.
Kita nguri-uri budaya- budaya asli Jawa dan kita kenalkan kepada Kaula muda generasi penerus kita, bahwasanya di Jawa sendiri banyak sebuah apa sebuah kegiatan kebudayaan kesenian dan salah satunya yang akan Kita tampilkan di desa Bodeh ini.

Kepada teman teman semua, kepada masyarakat bahwasanya ini loh kebudayaan asli orang Jawa, dan kebudayaan ini ternyata ada di lingkungan Kita, baik mulai dari Kidalang-nya yang akan Pentas, dan juga seluruh unsur pendukung seperti Karawitan-nya, semua lokal dari desa Bodeh.
Alhamdulillah di desa bodeh sendiri ada SDM (Sumber Daya Manusia) yang menggeluti dibidang seni Wayang Kulit ini.

Baca juga:  Sekda Barru Membuka Acara Sosialisasi DBH CHT

Di sini kita memberikan ruang kreasi kepada semuanya.

Harapannya kepada masyarakat dengan digelarnya acara ini bisa menghibur buat semua warga desa, kemarin kita sudah mengalami pandemi Covid 19 yang kurang lebih dua tahun, dimaksudkan dengan pagelaran kesenian Wayang Kulit bisa memberi hiburan, kita bisa saling bertemu, bersilaturahmi, bersatu kembali dan terus menjalin persaudaraan yang selama ini masyarakat kita undang dengan penuh keterbatasan, hanya yang resmi dan bersifat penting saja, namun kali ini, malam ini masyarakat kita undang dengan kegiatan tasyakuran sembari menikmati suguhan pagelaran Wayang Kulit di Balaidesa Bodeh.

Mudah mudahan dengan semangat kebersamaan ini, bisa untuk membangun desa Bodeh secara bersama-sama kompak, Solid dan saling mendukung satu dengan yang lainnya. Pungkas Subekhi.

Masih dalam kesempatan yang sama, Daryono selaku Ketua Panitia kegiatan juga turut menyampaikan, Insya Allah malam ini dalam rangka puncak Acara Sedekah Bumi di desa Bodeh akan Kami tampilkan Pagelaran Wayang Kulit dengan Lakon Dewa Amran, maksud dan tujuannya adalah bahwa acara sedekah bumi itu kan salah satu tradisi di tanah Jawa, harapan dan tujuannya dengan digelarnya acara sedekah Bumi ini bisa menjadi wasilah dalam kita bermohon dan berdoa kepada Allah Swt, mudah-mudahan desa Bodeh selalu diberi keberkahan dan kemudahan, bagi yang bertani maupun yang berdagang maupun yang usaha lainnya bisa barokah dan mendapatkan rezeki dari Allah Swt.

Selain Pagelaran Wayang Kulit ada juga kegiatan slametan dan doa bersama dan dilanjutkan dengan pemberian santunan kepada anak-anak yatim, dan berkaitan dengan kegiatan ini kemarin hari kamis tanggal 9 Juni kemarin ada kegiatan Slametan (Syukuran dan Doa bersama) dan untuk malam ini pagelaran Wayang Kulit.

Kami segenap Panitia kegiatan mengucapkan terima kasih kepada masyarakat desa Bodeh yang telah membantu kelancaran terselenggaranya semua acara ini, mudah mudahan bisa menjadi tambah guyub rukun kebersamaan untuk seluruh warga masyarakat untuk lebih baik lagi, lebih maju lagi untuk desa Bodeh.

Kami ucapkan terimakasih sebesar besarnya atas semua gotong-royong baik tenaga, pikiran maupun secara materi maupun non materi dari teman teman semua.
Itu semua berarti membangun rasa kesadaran sosial di desa Bodeh. Tutur Daryono.

Baca juga:  Proyek Jalan Lapen di Desa Sitampurung kecamatan Tarutung kabupaten Tapanuli Utara diduga Dikerjakan Asal-asalan

Selanjutnya sesaat sebelum acara pagelaran Wayang Kulit dimulai, Kami awak media juga meminta sesi wawancara singkat dengan Kidalang Teguh Widodo yang juga selaku Kasi Tata Pemerintahan kecamatan Bodeh, dalam keteranganya Kidalang Teguh menyampaikan bahwa Pagelaran Wayang Kulit dengan Lakon Dewa Amral (Pandu Surgawi).

Dewa Amral adalah jelmaan seorang Prabu Punthadewa.
Punthadewa adalah raja Amarta, yang mana Punthadewa adalah raja yang sangat sabar sekali dan berbudi luhur.

Pada waktu itu raja Amarta akan melangsungkan upacara ucapan Syukuran karena Bima/Werkudoro atau Brotoseno berhasil dengan selamat keluar dari laut, dari samudera yang mana disamudera itu Bima bertemu dengan Dewa Ruci dan dalam pertemuan itu Bima mendapatkan ilmu Kasampurnaan.

Setelah di Pendopo kerajaan Amarta digelarlah acara Syukuran tersebut, dan kerawuhan (kedatangan) Prabu Kresno dalam upacara tersebut.

Kemudia Werkudoro melanjutkan dengan Mejang (memberikan wejangan oleh oleh) yang didapat dari Dewa Ruci.
Namun setelah wejangan tersebut di floorkan (dideklarasikan) dari semua apa yang didapatkannya diamalkan di situ, dari semua ilmu Kasampurnan yang didapatinya.

Tapi ternyata Dewa tidak bisa menerima hal tersebut, dan akhirnya utusan dari Betoro guru mbanjud (datang dan membawa Bima dan Pandawa Pergi ke Kahyangan) untuk dimasukan ke kawah Candradimuka.

Punthadewo diam masih tetap diam saja karena Punthadewa adalah Raja yang sangat sabar sekali.

Pribadi sabar dan rakyatnya disitu menganggapnya sebagai pengayom dari kerajaan Ngamarto.

Mengingat adiknya di banjud kekahyangan dan akan dimasukan ke kawah candradimuka, Punthadewa tidak terima dan marah dan seketika itu berubah menjadi Buto putih besar (Raksasa putih) bernama Dewa Amral, lalu bergegas menuju Kahyangan dan disana Dewa Amral mengamuk, mengobrak abrik Kahyangan Suralaya dan membuat Geger.

Akhirnya ketemu sama Semar, lalu selanjutnya Semar membicarakan kejadian tersebut dengan Betoro Guru, dan setelah berbicara dengan Semar, Betoro Guru seorang pemimpin Kayangan bertobat, mengakui kesalahannya dan minta bantuan kepada Semar untuk meredakan Geger tersebut.

Berangkatlah Betoro Guru ke kawah candradimuka, tapi ternyata Werkudoro dan para Pandawa sudah dimasukan kekawah Candradimuka.

Karena yang bisa menyelesaikan persoalan Geger dari Dewa Amral adalah Bima.

Bima mau dan bersedia serta menyanggupinya untuk dimintai bantuannya dengan syarat Prabu Pandu dan Dewi Madrim (Bapak dan Ibunya) dari Para Pandawa itu dibebaskan dari Neraka dasar kawah Candradimuko dan hal itu dikabulkanlah oleh Betoro Guru dan di angkatlah Prabu Pandu dan Dewi Madrim dari kawah candradimuka dan ditempatkan di Suwargo Tundosongo.

Baca juga:  Jokowi Bingung dengan Harga Minyak Goreng di Bandung yang Melonjak Naik

Akhirnya Kahyangan kembali tentram dan Dewa Amral pun kembali ke wujud aslinya menjadi Punthadewa.
Dan semua yang dikahyangan kembali kekerajaannya masing masing. Terang Kidalang Teguh.

Kidalang Teguh Melanjutkan bahwa pada zaman sekarang ini, Prinsip dari seorang pemimpin yang selalu mengedepankan Kebudayaan (budaya itu kan sifatnya halus) jadi kalau budaya itu dihidupkan dari semua masyarakatnya ataukah Pemimpinya, itu artinya Desa Bodeh itu masih mau nguri uri budaya Jawa.
Jadi pada saat ini Beliau Pak Kades dan seluruh masyarakat Bodeh masih mempunyai unggah ungguh, trapsilo atau subosito terhadap kondisi dizaman ini.

Kepemimpinannya seperti air bisa masuk ke link sekecil apa pun, mulai dari masyarakat yang yang sederhana saja, masyarakat biasa, bahkan masyarakat yang kaya, dan lain sebagainya bisa masuk dalam kemajemukan masyarakatnya.

Untuk Acara Sedekah bumi inipun Alhamdulillah Pak Kades juga masih melaksanakannya adat tersebut.

Tadi juga di sini ada acara santunan anak yatim, artinya tidak melupakan kepada anak yatim yang memerlukan santunan, dan hal itu adalah merupakan ajaran Islam.

Beliau Pak Kades selaku Orang tua atau yang dituakan ternyata ikut memikirkan masyarakatnya yang masih dalam keadaan kondisi yang kekurangan, jadi sifatnya seperti air (ncrambahi) dalam keadaan kondisi apapun bisa ikut masuk hadir dan peduli kepada warga masyarakatnya.
Semoga dalam Kepemimpinannya Beliau didesa Bodeh kedepannya akan menjadi barokah dan sukses, baik budayanya maupun sosialnya dan aman-aman saja.

Terutama terkait dengan acara Sedekah Bumi (Sodakahe Bumi) semoga dengan bersedekah, bumi desa Bodeh yang ada di kecamatan Bodeh kabupaten Pemalang menjadi yang aman subur makmur tata tentrem Pemerintahanya.
Dalam acara Sedekah Bumi ini, Saya disambat sama Beliau Pak Kades untuk mengisi Pagelaran Wayang Kulit, semoga partisipasi ini bisa saling memberi manfaat ora ketang klungsu klungsu, ora ketang mrico kecut untuk semuanya. Pungkas Kidalang Teguh Widodo dengan kalimat falsafah Jawanya.
( Eko B Art).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *