Ma’had Birru Walidain Tahfidz Al Qur’an Medan Mencetak Generasi Qurani

Ma’had Birru Walidain Tahfidz Al Qur’an Medan Mencetak Generasi Qurani

Reporter: Rudi Hartono

Medan | Gerbang IndonesiaGenerasi Qurani esensinya adalah generasi yang memahami dan mendalami Al-Quran secara kaffah (keseluruhan) baik dalam perbuatan (adab/akhlak) maupun dalam perkataan (tilawah/hafidz/) sehingga dalam kehidupan nyata mencontoh perilaku Nabi Muhammad Sallallahu’alaihi Wassalam, yaitu akhlak Nabi SAW itu adalah Al-Quran berjalan. Tentunya dalam pelaksanaan memerlukan proses panjang karena berhubungan dengan transformasi sikap, sifat dan karakter pribadi.

Ma’had Birru Walidain mencoba mengaplikasikan hal itu dalam bentuk pendidikan yang melekat yang mengharuskan santriwan/santriwati mondok di pesantren (Ma’had) itu. Semua gerak-gerik santri di evaluasi dan di bimbing sedemikian rupa sesuai dengan ajaran Rasulullah SAW.

Awal terbentuknya lembaga pendidikan khusus Alquran ini di mulai dari pengajian al quran rutin setiap ba’da Ashar dan ba’da Maghrib dan berlanjut lagi ba’da Isya dengan pembagian 3 gelombang. Dengan latar belakang pesantren dan pendidikan di Ma’had Abu Ubaidah di kota Medan, pasangan suami istri, Ustadz Rajo Hasibuan, SPdi dan Siti Kholilah Ritonga, SPdi bergiat mengajarkan anak-anak di sekitar tempat tinggal mereka.

Sebelum mengajar anak-anak disekitarnya, mereka berdua merupakan staff pengajar tetap di sebuah pesantren terkenal di Tangkahan Martubung. Bahkan karena tugas itu, mereka berdua tinggal di sebuah rumah yang diperuntukkan bagi tugas mereka. Mereka berdua merupakan pemegang “sanad” (ketersambungan) yang berasal dari pengajaran dari gunu pemegang sanad berijazah turun temurun sampai pada Nabi SAW.

Baca juga:  Undang-undang Tentang Ibu kota Negara Disahkan Dalam Rapat Paripurna

Karena kedalaman ilmu dan ketawadhuan mereka berdua serta cepat akrab dengan para santri, menyebabkan kehadiran mereka menjadi buah bibir masyarakat khususnya para wali santri. Mereka di pandang sebagai pasangan muslim yang beriman. Apalagi penyampaian bahasa yang lemah lembut serta penuh kesopanan membuat para santri betah berlama lama mendengar pengajaran mereka berdua.

Awak media Gerbang Indonesia, berkesempatan hadir mengunjungi Ma’had mereka. Sebenarnya hanya berbentuk rumah yang di sulap menjadi “tempat” pendidikan. Bahkan konsep pendidikan itu sendiri sangat sederhana yang berada di halaman samping rumah. Gelaran tikar dan panggung belajar tempat menimba ilmu. Para santri duduk bersila melingkar mengitari ustadz (guru) yang memberi pelajaran.

Ilmu adab (Aqidah Akhlaq), bahasa Arab, fiqih, Nahwu, shorof dan lainnya yang bernuansa ajaran Islamjuga diajarkan selain dari Tahfidz dan tahsin sebagai pondasi dasar pengajaran. Staff pengajar di Ma’had ini pun bukanlah orang sembarangan. Hampir semua merupakan ustadz yang ahli dalam ilmunya (spesialis).
Dalam hal rekrutmen guru/tenaga pendidik, banyak hal yang harus dipertimbangkan. Hal yang utama yang menjadi kriteria pendidik berpatok tentang tahsin, tahfidz dan syahadah (pengakuan) dari guru pendidik berupa ijazah yang menyatakan sudah layak mengajarkan ilmu.

Baca juga:  Waspada Musim Hujan, Demam Berdarah Mengintai

Kriteria selanjutnya adalah bagi pendidik yang mengajar di bidang ilmu keislaman, dipilih dan diamati kelayakan ilmu yang sebelumnya telah disaksikan dalam penyampaian kajian di tempat ia memberi ilmu, terutama yang menguasai kitab “Thurosy” (kitab kuning). Ada alumni Universitas Aljazair (Mutakhirrij) yang mendalami ilmu tahsin, tajwid dan tahsin dan ilmu Al-Qur’an bersanad. Begitu juga pendidik yang lain, harus tetap ada tauqid Masyeikh dengan ijazah layak mengajarkan ilmu.

Dalam pengaturan untuk kegiatan belajar dan mengajar di pesantren Ma’had, tentu berlaku aturan umum seperti hal pesantren, aturan ini disesuaikan dengan keadaan tempat pendidikan. Kegiatan sholat Dhuha, sholat Tahajjud rutin setiap hari dilakukan. Begitu juga sikap adab/akhlak kepada guru dan sesama santri diterapkan secara ketat demi terbentuknya Akhlakul Karimah.

Kalau dilihat dari sisi kelayakan, tentunya “belumlah” tepat dikatakan sebagai pesantren, tetapi animo masyarakat yang ingin menitipkan anaknya untuk menimba ilmu, sangat tinggi. Hal ini terlihat dari banyaknya daftar tunggu bahkan ada yang bersedia “menyisip” demi anaknya belajar di Ma’had ini. “Kalaulah tidak dibatasi, tentunya tidak terlayani dengan layak. Dalam hal penyesuaian dengan pendidikan sederajat, Ma’had bekerjasama dengan lembaga yang menyediakan paket A, B dan C.

Tujuan akhir dari santri yang menimba ilmu di Ma’had adalah setelah menjadi alumni, diharapkan santri berakhlakul Karimah. Yang kedua menguasai tahsin yaitu tilawah Qur’an dengan baik dan benar sesuai hukum tajwid dan hukum makhrajatul huruf. Yang ketiga adalah hafalan Al-Qur’an (tahfidz) 30 juz. Yang keempat, penguasaan bahasa Arab yang mumpuni agar kiranya lepas dari pendidikan di Ma’had ini dapat melanjutkan ke perguruan favorit di bidang pengkajian Al-Qur’an baik di dalam negeri maupun di luar negeri.

Baca juga:  Terkait Penangkapan Wilson Lalengke, Ini Kata Rudiyansyah

Al-Ustadz Ahmad Rajo Hasibuan SPdi, owner dan pengajar di Ma’had menuturkan bahwa, “Ada rencana pembangunan Ma’had yang layak dan telah tersedia lahan kosong sekitar 6 rante (120×120 M) di kelurahan Tangkahan,Medan Labuhan yang telah di beli cicil. Banyak saran dari wali santri agar memohon atau membuat proposal bantuan dana ke instansi atau lembaga-lembaga tertentu untuk pembangunan Ma’had.” Saya menolak hal yang demikian, karena saya tidak terbiasa mengajukan proposal bantuan.

Foto: Al-Ustadz Ahmad Rajo Hasibuan SPdi
Foto: Al-Ustadz Ahmad Rajo Hasibuan SPdi

“Tapi, saya tidak menolak jika ada dermawan yang bersedia menjadi donator atau mendonasikan sebagian rejeki ke pihak Ma’had. Bisa melalui rekening pribadi saya atas nama Ahmad Rajo Hasibuan. Nomor rekening: 13402040070705, Bank SUMUT, atau datang langsung ke pesantren Ma’had Birru Walidain Tahfidz Al-Qur’an yang berlokasi di jalan Asri 5, Blok X, Griya Martubung I, Kampung Besar, Kecamatan Medan Labuhan, kota Medan”, pungkasnya menutup pembicaraan. (Rudi Hartono)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *