Sejarah Sayyid Husein As-Segaf “Korban Ketamakan Raja Bangkalan”

Budaya33 Dilihat

Reporter: Sakban

Sampang | Gerbang Indonesia – Sebuah makam yang terletak di Desa Banyusangkah Kecamatan Tanjung Bumi Kabupaten Bangkalan Madura, makam yang berada di pesisir utara pulau madura ini merupakan makam seorang waliyullah yang amat keramat dengan berbagai macam linuwih yang beliau punyai, sangking keramatanya beliau mendapat julukan Sayyid Zimat atau Bujuk Zimat.

Zimat didalam bahasa Indonesia sendiri menurut KBBI adalah sesuatu barang yang dapat membawa keistimewaan, keluarbiasaan bagi pemakainya, mesti begitu namun diluar dari pengertian yang ada di KBBI, zimat yang dimaksud disini merupakan sebuah karomah yang dimiliki oleh beliau Sayyid Husein, dikisahkan bahwa beliau sayyid husein merupakan keturunan langsung dari Baginda Rasulullah SAW dari jalur keluarga beliau yang berasal dari Hadramaut Yaman, negeri seribu wali.

As-Seggaf sendiri merupakan marga yang banyak kita temui di Indonesia yang dimiliki oleh kalangan habaib dan ulama` yang mengemban misi dakwah di nusantara tepatnya pulau jawa dan sumatera, tertulis jelas di petilasan beliau bernama asli Sayyid Husein As-Seggaf dari jalur sayyid Muhammad al-faqih al-muqaddam yang kemudian berakhir pada kakek beliau Sayyidina Husein binta Sayyidah Fatimah Az-Zahro binti Rasulullah Muhammad SAW.

Baca juga:  Perlu Adanya Perhatian Pemerintah untuk Melestarikan Seni Budaya Pencak Silat Cimande "Jember"

Namun begitu ada juga yang meyakini jika beliau salah seorang keturunan daripada Raden Rahmat Sunan Ampel yakni cucunya beliau, bahkan dikatakan jika beliau merupakan putra dari Sunan Bonang (Maulana Makdum Ibrahim).
Seperti yang dikatakan oleh salah seorang peziarah, tokoh masyarakat bernama KH.Hakam Ali “beliau Sayyid Husein adalah cucu dari Sunan Ampel dan putra dari Sunan Bonang, dan beliau pula adalah merupakan leluhur daripada para Masyaikh Buju-buju` yang berada di batu ampar proppo pamekasan madura yang sering diziarahi oleh para peziarah dari berbagai pelosok Pulau Jawa” ungkapnya kepada wartawan Gerbang Indonesia.

Masih menurut beliau, mengutip dari babad buju` kasambih batu ampar, buku manaqib buju` kosambih diceritakan jika Sayyid Husein merupakan salah seorang ulama` pendatang di pulau madura tepatnya di kabupaten bangkalan atau madura barat, dimasa itu Sayyid Husein banyak pengikutnya, banyak diantara mereka kalangan awam yang berguru atau setidaknya menjadi simpatisan beliau, oleh karena sebab ilmu dan kearifan, kebijaksanaan dan tingkah lakunya yang sopan, mengayomi pada rakyat jelata sehingga beliau banyak mendapat simpati masyarakat luas.

Baca juga:  Eksekutif dan Legislatif Kabupaten Sampang Gunakan Bahasa dan Adat Daerah Pada Rapat Paripurna Hari Jadi Sampang ke-398

Hal itu dianggap merupakan suatu ancaman bagi kalangan kerajaan pada saat itu, sehingga keberadaan beliau banyak mendapat perhatian, bahkan ada seorang penasehat raja Bangkalan saat itu R.Pragalba mengusulkan pada sang raja untuk mengadakan pembantaian terhadap Sayyid Husein As-Seggaf, karena berbagai pertimbangan dan kecemburuan social maka sang raja menyetujui hal itu sehingga dibantailah sang Sayyid, saat beliau terbunuh dalam peristiwa itu maka sebagai penghormatan kepada musuhnya, sang Rajapun akhirnya akan menguburkan jenazahnya itu, namun saat itulah muncul karomah sang wali
Jenazahnya tidak dapat di kuburkan ditempat itu akhirnya seluruh wilayah di bangkalan dicoba untuk menguburkan jenazah namun tidak kunjung dapat dikebumikan, akhirnya sampailah iring-iringan raja di desa Banysangkah yang saat ini merupakan tempat peristirahatan beliau untuk terakhir kalinya “tidak hanya itu mas, karomah beliau juga saat malam pemakamannya terjadi semerbak cahaya bagaikan matahari pagi, para prajurit raja yang menguburkan beliau menyangka jika pagi sudah tiba, padahal saat itu jam masih menunjukkan awal malam, sehingga mereka semua takjub dan kagum terhadap karomah atau linuwih beliau, sehingga beliau di juluki sebagai bujuk zimat” ujar kiai hakam menyudahi ceritanya
Namun di lain pihak, banyak sejarahwan madura menyangkal kisah-kisah yang disebutkan itu, seperti sejarahwan madura pakar silsilah wali sangan bindara H.Nizam “tidak disebutkan di kitab-kitab sejarah maupun babad tanah jawi jika sunan ampel adalah bermarga As-Segaf, beliau memang keturunan Rasulullah SAW tapi banyak yang menulis jika beliau bermarga azmat khan, bukan As-Segaf,” ungkapnya saat di minta tanggapan.

Baca juga:  tips diterima kerja di Tasikmalaya kreatif

Masih menurut beliau, Sunan Bonang dalam banyak sejarah dikatakan tidak menikah hingga usia larut alias usia senja, ada memang yang menulis jika sunan bonang menikah dan mempunyai seorang putri saja yakni Dewi Ruhil yang menjadi ibunda Sunan Djakfar Sodiq alias Sunan Kudus, bukan Sayyid Husein.

Namun dia berharap agar semua masyarakat khususnya masyarakat pulau Madura melestarikan peninggalan-peninggalan wali Allah, apalagi hal itu merupakan symbol sejarah kearifan lokal masyarakat Madura. (SAKBAN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *