Dialog Pemuda dan Politik Kebangsaan, Partai Ummat: Pemuda di Tengah Badai Politik

Dialog Pemuda dan Politik Kebangsaan, Partai Ummat: Pemuda di Tengah Badai Politik

Reporter: Rudi Hartono

Medan | Gerbang Indonesia – Ketua Umum Partai Ummat Dr. Ing. Ridho Rahmadi, S.Kom, MSc menghadiri kegiatan acara Dialog Pemuda dan Politik Kebangsaan di UMKM Kafe Jalan Brigjen Katamso Medan pada hari Jum’at 21/1/22. Hadir dalam acara dialog ini para petinggi DPW Partai Ummat Sumut seperti Ketua DPW Partai Ummat Ir. Heri Batangari Nasution, M.Psi, Ketua DPD Kota Medan, Persada, SP, para fungsionaris DPW Partai Ummat, DPD Partai Ummat Kota Medan, Wakil Ketua DPW Bustami HS, Ketua MPPD Kota Medan dan Wakil Ketua Majelis Syuro, M.S Kaban.

Hadir dalam acara ini para pemuda yang tergabung dalam organisasi kepemudaan seperti KNPI Kota Medan, Pemuda Muslimin Indonesia Kota Medan, Karang Taruna Kota Medan, para aktivis kepemudaan dan para Mahasiswa di Kota Medan seperti UNPAB Universitas Negeri Medan (UNIMED), Civitas UMSU. Ikut pula memeriahkan acara yaitu emak-emak Melenial Ummat, Permata Ummat Kota Medan, para pengurus dan fungsionaris DPC sekota Medan. Ada pula dari luar daerah seperti Ketua DPD Madina dan Bendahara DPD Kota Tanjung Balai, Hendra Syahputra.

Baca juga:  PLT Bupati Pemalang Meresmikan Rumah Dinas Jabatan Kapolres dan Wakapolres Pemalang

Dalam sambutannya, Wakil Ketua Majelis Syuro DPP Partai Ummat MS Kaban, mengungkapkan tentang peranan pemuda dalam kancah politik. “Menyikapi tentang perpindahan Ibu kota dengan disetujuinya pemindahan Ibu Kota Negara (IKN) dari Jakarta yang kelak dipindahkan ke Kalimantan dengan nama IKN, “Nusantara”, mengingatkan peristiwa sejarah seputar masa 1960-1966 masa genting negara di masa PKI yang selalu memakai istilah “Nusantara” untuk mengaburkan tujuan hegemoni menguasai RI”, ujar Kaban.

“Strategi RRC 50 tahun di Indonesia telah ada sejak masa tahun 60-an lalu. Bicara China bukan bicara etnis. China punya aturan setiap 100 juta dollar uang China dipakai maka keseluruhan tenaga kerja di import dari China. Coba perhatikan tentang strategi ini dan bandingkan keadaan Indonesia sekarang ini. Ideologi konstitusi kita adalah, “Negara berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa”. Jadi siapapun warga negara Indonesia apapun etnis dan agamanya maka tidak terlepas dari tuntunan keagamaan. Maka, jika ada slogan yang menyatakan urusan negara dipisahkan dengan agama, itu menandakan secara konstitusional dia tidak mengakui landasan Sila Pertama dan Pasal 29 UUD 1945′, Ujar mantan Ketua Umum PBB tersebut.

Baca juga:  Atika Sebut Pasar Produk Lokal Madina dapat Diperluas

Ketua Umum Partai Ummat, Dr. Ing. H. Ridho Rahmadi, S.Kom, MSc dalam sambutannya membeberkan fakta keadaan politik transaksional yang sudah, sedang dan akan tetap berjalan. Banyak hal yang aneh dan diluar logika ketika wakil rakyat dapat memutuskan perkara menyangkut hajat hidup orang banyak dalam hitungan jam dan itu disetujui oleh sebagian besar fraksi yang bermukim di Senayan. Akrobat politik, sirkus politikus dan lobi-lobi yang menyengsarakan rakyat masih terus berlangsung. Siapa yang diuntungkan dengan pelbagai keputusan ini???, tentunya ini rahasia umum mengingat begitu kuatnya sindikasi kepentingan antara pemerintah dengan pihak yang diuntungkan melalui “jalur resmi”, ujar Ridho dengan mantap.

“Peranan pemuda dalam menyikapi kondisi tatanan kenegaraan dan wawasan kebangsaan memerlukan ruang yang sangat luas untuk dimasuki sebagai arena politik. Partai Ummat. Persentase keterwakilan generasi milenial dan generasi Z masih minim, masih menempati 25 % dalam kancah politik. Sementara keterwakilan diatasnya yang berusia 41 ke atas mencapai porsi 75 %. Inilah yang ingin kita perjuangkan di masa depan”, lanjutnya.

Baca juga:  Demi untuk Dijadikan Kantor Kapolres, Kantor Satpol-PP Terpaksa Pindah

“Tagline Lawan kezaliman, Tegakkan Keadilan, bukan semata-mata hanya tagline, tetapi sudah merupakan ideologi. Ideologi mengacu pada penegakan supremasi hukum dan penegakan keadilan di segala lini sendi – sendi kenegaraan. Bangsa kita tidak dalam kondisi baik-baik saja. Kita sekarang sudah sampai pada ujung titik nadir berbangsa dan bernegara dengan segala keterpurukan hutang dan balas jasa. Kemakmuran, kesejahteraan, kemajuan dan pongahnya pembangunan hanya kamuflase dari nafsu serakah politikus bagi-bagi kekuasaan dan penguasaan atas segala sumber yang perlahan tapi pasti jadi neraka untuk generasi akan datang”, pesan Ridho penuh semangat.

Dialog pemuda dan politik kebangsaan ini di gelar dalam rangka membuka cakrawala pikiran pemuda dan peran serta apa yang dapat dilakukan dalam politik masa kini. Acara dimulai ba’da Ashar dan berakhir menjelang Maghrib. (RHO)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *