Miris Kera-kera di Hutan Nepa Dibiarkan Kelaparan, Disporabudpar Sampang dan Pihak Pengelola Saling Tuding

Miris Kera-kera di Hutan Nepa Dibiarkan Kelaparan, Disporabudpar Sampang dan Pihak Pengelola Saling Tuding

Reporter: Sakban

Sampang | Gerbang Indonesia – Kawanan Kera di objek wisata pantai dan hutan mangrove Nepa di Desa Batioh Kecamatan Banyuates Kabupaten Sampang Madura seringkali ditemukan Kera yang berkeliaran dan memasuki rumah Warga sekitar, mereka diduga kelaparan karena kurangnya perhatian dari pihak pengelola sehingga hal ini sangat meresahkan Warga sekitar.

Bahkan saking kelaparannya ada beberapa ekor Kera yang tim wartawan Gerbang Indonesia temui dilapangan merampas dan membawa paksa makanan ringan (snack) yang dibawa oleh para pengunjung wisata tersebut.

Salah seorang juru kunci hutan Nepa yang ditemui kami pada senin (27/12/21) ditempat mengatakan bahwa jatah makanan yang diberikan rutin tiap bulannya sangat kurang, sekitar dua sak makanan Kera, padahal Kera yang ada di wisata tersebut sangat banyak
“pernah mas selama empat bulan kami tidak menerima kiriman makanan bulanan untuk para Kera oleh Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata sehingga banyak kera yang kelaparan bahkan ada yang kabur dan meninggal” tuturnya.

Baca juga:  Dari Masjid Ummat Bangkit untuk Maksimalkan Fungsi Masjid

Dia khawatir jika kejadian ini dibiarkan berlarut-larut tanpa ada tindakan dari pihak pengelola dan dinas terkait akan menjadikan kera ganas, dan mati bergelimpangan, sehingga membahayakan warga sekitar dan wisatawan yang berkunjung.

Sementara itu, Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata (Disporabudpar) Kabupaten Sampang H.Marnilam menjelaskan, kurangnya makanan Kera di hutan Nepa akibat adanya refocusing anggaran di era pandemic Covid-19 “wisata hutan Kera itu banyak pendapatannya, namun pihak pengelola dalam hal ini pemdes batioh enggan setor pendapatan asli daerah (PAD) ke Kabupaten Sampang” ungkapnya.

Baca juga:  8 Kepala Desa di Kecamatan Gelumbang Melantik Perangkat Desanya

Namun hal itu berbanding terbalik dengan yang diungkapkan oleh Suud Ali, selaku mantan Kepala Desa Batioh mengatakan bahwa selama 4 tahun terhitung sejak 2017-2020 pihak pengelola dalam hal ini Pemdes Batioh selalu rutin menyetorkan PAD pada Pemerintahan Kabupaten Sampang.

Bahkan menurutnya tahun 2020 pihaknya mengeluarkan dana pribadi untuk menambah setoran pada Pemerintah Daerah Kabupaten Sampang, namun diakuinya memang tahun 2020 akhir sampai tahun 2021 ini pihaknya belum setor PAD karena pendapatan berkurang sejak diberlakukannya PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) sehingga nyaris tidak ada pengunjung sama sekali. (SAKBAN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *